"Orang
boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di
dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
Itulah
sepenggal ayat yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya, Rumah
Kaca. Ini sama halnya dengan yang diungkapkan oleh Harari dalam bukunya, Sapiens,
bahwa cita-cita manusia modern adalah immortal, keabadian. Bisa jadi menulis
adalah salah satu cara untuk hidup abadi.
Apalagi
yang bisa dilakukan oleh orang yang tidak bisa-bisa amat tentang teknologi
selain menulis? Immortal yang digadang-gadang oleh Harari hanyalah untuk mereka
yang bermodal dan cakap teknologi. Wajar saja mereka memimpikan keabadian dalam
hidupnya.
Seperti halnya kutipan di atas, bagi orang yang biasa-biasa saja, bisa mulai mengukir sejarah
dengan menulis. Apa pun bisa ditulis dan menjadi tulisan asalkan selesai. Toh,
baik buruk tulisan adalah selera personal.
Lain
Pram lain lagi adiknya, Soesilo Toer. Sempat mendengar ceritanya dalam acara
Ketemu Buku di Blitar pada 2019 lalu, bahwa pertama kalinya ia menulis adalah dari keterpaksaan. Siapa sangka penulis legendaris ini secara terang-terangan berkata
bahwa ia terpaksa dalam menulis.
Latar
belakang orang menulis memang milik Si Penulis sendiri. Hal pentingnya adalah
suatu karya dapat dihasilkan melalui tulisan. Bukan hanya itu, Soes mengaku
bahwa ia dapat membeli apa pun yang ia inginkan tanpa meminta dari Pram melalui
tulisannya.
Sempat
juga mendengar penuturan dari Agus Mulyadi tentang menulis ketika acara “Ketemu
Buku” di Kediri. Ia berkata bahwa mulanya ia butuh uang. Ketika ditawari untuk
menulis dan tulisannya dihonori, ia menjadi semangat menulis.
Katanya,
motivasinya menulis adalah untuk mendapatkan uang. Dengan itu ia bisa balas
dendam terhadap kemiskinannya dulu. Tapi, ia sempat berpesan bahwa jangan meniatkan diri untuk kaya
ketika menulis.
Selain
itu, Agus memberi tips untuk penulis. Pertama, menulis dengan bahasa yang
membumi. Salah satu penulis Mojok.co ini, mengungkapkan bahwa banyak tulisan
dengan bahasa melangit. Hal inilah yang
membuat pembaca merasa bingung terhadap apa yang ia baca.
Kedua,
tulisan yang tidak mainstream, berbeda. Sempat Agus contohkan kepada
peserta Ketemu Buku terkait tulisan yang berbeda, yaitu Geger Rapat Partai
Amanah Nasional (PAN). Jika beberapa portal online menyajikan kritik politik
dan etika dalam rapat, maka sebagai penulis setidaknya jangan mengikuti arus.
Tulis sisi lainnya, seperti sajikan humor atau satir dalam tulisan.
Ketiga,
tulis apa pun yang ada di sekitarmu, jangan jauh-jauh. Apa pun bisa menjadi tulisan, kata Agus. Asalkan dapat menulisnya secara tuntas dan dikemas dengan
menarik. Namun, menarik tidaknya tulisan itu tergantung pembacanya. Biarkan
mereka menilai tulisan dan penulis tetaplah produktif menulis.
Keempat,
menulis apa yang dibisa & disuka. Sekali lagi, apa pun bisa menjadi
tulisan. Agus mengungkapkan bahwa penulis tidak perlu terpaku pada kaidah dan
tuntutan kepenulisan. Tulis saja yang dibisa dan terpenting disuka. Biarkan
tulisan itu mengalir, maka akan menjadi suatu karya juga.
Terakhir,
penulis setidaknya membiasakan banyak membaca. Hal ini dilakukan supaya dalam
tulisan mempunyai banyak kosa kata menarik. Sekali lagi, tidak perlu
menggunakan bahasa melangit, tetapi bahasa yang unik.
Melihat
tips menulis dari Agus, memang seperti inilah tulisannya. Banyak sekali
tulisannya yang santai dan menarik di Mojok.co. Bahkan, dari tulisannya itu ia
bisa membuat buku. Misalnya saja "Seni untuk Memahami Kekasih". Agus
mengungkapkan bahwa isi buku itu hanyalah kata-kata manis untuk kekasihnya,
Kalis Mardiasih, yang ia kumpulkan dari berbagai akunnya.
Last but not least, Agus memaparkan bahwa tulisan yang baik adalah tulisan yang tidak
banyak kutipan-kutipan filsuf. "Penulis yang baik adalah penulis yang
tulisannya dikutip, bukan banyak kutipan-kutipan para filsuf. Itu jelas sekali
kalau dia tidak yakin terhadap apa yang ia tulis," paparnya. Tetapi, penulis tetap
punya caranya masing-masing dalam menulis.
