by. Erwin Ernanda
Saya
mungkin satu dari sebagian banyak orang yang menikmati youtube sebelum
tidur, atau lebih tepatnya menggunakan medium youtube sebagai pengantar
tidur. Mulai dari film, talk show,
hingga stand up comedy saya tonton,
sesuai mood saja. Kadang bahkan hanya memutar musik suara hujan agar cepat
tidur.
Bila
sedang ingin menonton film, biasanya saya tulis saja sekenanya, seperti “film
Indonesia” atau “film sub Indonesia”. Youtube kemudian akan mengeluarkan
list-nya, sesuai dengan keyword yang saya tulis. Menarik waktu
itu (tahun 2017) muncul satu film dengan judul “film bagus” pada list, dan saya klik film tersebut.
Awalnya
saya tidak tahu judul asli film itu, saya tonton saja dari awal. Muncul
gambar anak-anak punk, baru kemudian saya tahu film itu berjudul “The
Taqwacores”. Latarnya di Amerika, tepatnya di Bufallo, New York. Tokoh pertama
yang saya kenal dari film itu adalah Yusef, seorang pemuda muslim yang mencari
tempat tinggal untuk meneruskan studinya di Amerika.
Yusef
menemukan tempat tinggal bersama pemuda Muslim lainnya yang telah tinggal lebih
dulu di Amerika. Di tempat itu Yusef pertama kali bertemu dengan Umar, seorang
muslim yang kaku. Umar satu-satunya
penghuni
yang berusaha mengembalikan nilai-nilai Islam di rumah itu, yang baginya
nilai-nilai Islam hilang sejak kehadiran Punk Rock Muslim.
Selain
bertemu dengan Umar, Yusef bertemu pula dengan Jehangir dan Fasiq. Pertemuan
Yusef dengan kedua orang itu terjadi saat Yusef hendak mengambil air wudhu
untuk sholat subuh. Ia melihat Jehangir dan Fasiq sedang berada di atas rumah.
Saat itu Jehangir menirukan adzan dengan gitar listriknya. Itu membuat Yusef
terheran-heran, begitu pula saya sebagai penonton film.
Yusef
pun kemudian bergaul dengan Jehangir. Dari pergaulan itu Jehangir dapat mengubah
pandangan Yusef tentang Islam yang selama ini ia jalani dan yakini. Yusef pun
mulai berpetualang di lingkungan Punk Rock Muslim Amerika.
Banyak
karakter menarik dan membuat saya terheran-heran dalam film ini. Seperti, Ayub
yang radikal, Muzamil yang gay, dan Lyn yang mengaku baru masuk Islam
(muallaf). Tapi dari banyak karakter di film ini, saya sangat tertarik dengan
karakter Rabeya.
Rabeya
ini menarik, seorang muslimah yang menggunakan burqoh (pakaian yang menutup
seluruh badan) dengan berbagai tempelan identitas punk. Mungkin dia di satu
sisi ingin menunjukkan identitas islamnya dan di sisi lain identitas Punk.
Rebeya yang memakai burqa sebenarnya memiliki pandangan yang sangat feminis dan
liberal. Itu ditunjukkan saat ia merobek
salah satu surat pada Alquran yang ia anggap patriarki. Ia pun tidak mau hanya
menjadi makmum ketika salat, tapi ia juga ingin
menjadi imam salat.
Film
ini bagi saya sangat kontroversial dan memang mendapat banyak penolakan dari umat Muslim di dunia. Namun bila kita
pahami film ini, kita akan temukan
relasi yang cukup toleran antar karakter yang berbeda-beda pada tokoh-tokohnya. Paling tidak karakter Umar yang kaku dapat bertoleransi
dengan Muzamil yang gay.
Bagian
klimaks dari film ini adalah ketika Jehangir menyulap rumah itu menjadi tempat
konser Punk Rock Muslim. Jehangir mengundang berbagai band Punk Rock Muslim
pada konser itu. Awalnya konser itu sangat meriah, sampai akhirnya muncul satu
band yang tidak disenangi penghuni rumah dan terjadilah keributan.
Film
The Taqwacores dirilis pada tahun 2010 ini sebenarnya diangkat dari novel “The
Taqwacores” karya Michael Muhammad Knight yang terbit tahun 2003. Novel
tersebut terjual 15 ribu copy di seluruh dunia. Meskipun novel tersebut fiksi,
namun pengalaman penulisnya (bagi saya) sedikit banyak memberi gagasan dalam
novel tersebut.
Michael
Muhammad Knight sendiri adalah seorang mualaf. Ia tidak diterima baik di
komunitas muslim maupun komunitas non muslim. Bagi masyarakat, komunitas Punk
Rock Muslim dianggap tidak bertakwa. Namun demikian, konon kabarnya dalam tour
musik nya para Punk Rock Muslim tersebut tidak pernah meninggalkan salat lima
waktu.
Mungkin
cukup dilematis bagi seorang muslim yang menonton film ini, khususnya yang
masih muda dan masih mencari jati diri. Bagaimana tidak, di satu sisi Islam
sebagai identitas dan Punk Rock sebagai identitas lain dalam film tersebut.
Selalu saja ada berbagai identitas dalam diri manusia.
Identitas
memang menjadi sesuatu yang penting bagi manusia, pun juga bagi masyarakat
kita. Kita terus mencari-cari identitas yang absolut, sedangkan ada berbagai
identitas dalam diri kita. Saya laki-laki, saya warga negara Indonesia, saya
memiliki watak tertentu, saya dari golongan sosial tertentu, dan sebagainya.
Tetapi apakah semua itu menjadi identitas absolut? Tentu saja tidak. Kita perlu
merefleksikan semua yang melekat pada diri kita menuju penerimaan secara bebas.
Sebagaimana
dalam Existence et objectivite, karya
filsuf Prancis, Gabriel Marcel, objektivitas adalah lawan dari eksistensi.
Eksistensi yang dimaksud di sini adalah situasi konkrit kita, seperti: aku
laki-laki, aku warga negara Indonesia, dan sebagainya. Itu semua hanya nasib,
bukan yang sesungguhnya dari kita (secara filosofis).
Untuk
menuju manusia yang sesunggunya, marcel menawarkan tiga fase penting dari
eksistensi menuju objektivitas (identitas sesungguhnya). Tiga fase tersebut
meliputi admiration (kekaguman), reflexion (refleksi), dan exploration (eksplorasi).
Fase
kekaguman itu penting bagi manusia untuk membuka diri terhadap berbagai hal
dalam hidup. Membuka diri berarti kerendahan diri untuk melihat, mendengar, dan
menerima berbagai hal. Akan sangat tidak mungkin keangkuhan dapat membuka diri.
Membuka
diri saja tidak cukup bagi Marcel, manusia harus merefleksikan dirinya. Ada dua
tahap dalam refleksi; pertama secara intelektual yang cirinya abstraksi,
analitis, universal, dan dapat diverifikasi. Tahap pertama saja ternyata tidak
cukup, harus dilanjutkan dengan tahap kedua dengan pertemuan dengan kehidupan
konkrit yang sifatnya dialogis. Disini jelas harus ada pertemuan antara pikiran
dan kehidupan nyata.
Bila
dua fase tersebut sudah dilakukan, baru kemudian terbuka jalan menuju exploration. Pada fase ini manusia sudah
dapat menerima realitas (kenyataan) secara bebas, baik dimana kita berada,
termasuk menerima diri kita sendiri. Bagi Marcel keadaan tersebut melampaui
pikiran aktif.
Dari
gagasan filosofis Marcel tersebut, menurut saya, para Punk Rock Muslim tersebut
mencoba merefleksikan diri mereka. Keterbukaan akan berbagai hal, merefleksi
identitas mereka sebagai seorang muslim dan juga kesukaan akan aliran musik
Punk Rock. Dari proses itu mereka dapat menerima identitas diri mereka secara
bebas. Islam dan Punk Rock mereka terima sebagai identitas secara bersamaan.
