Judul buku:
Muhammad SAW dan Karl Marx tentang Masyarakat Tanpa Kelas
Penulis: Munir Che Anam
Penerbit: Pustaka Pelajar
Kota terbit: Yogyakarta, 2008
Tebal buku: xx + 289 halaman
ISBN: 978-602-8055-39-0
Siapa sangka ada penulis
yang terpikir untuk membandingkan pemikiran Muhammad SAW dengan Karl Marx.
Apalagi ini terkait dengan masyarakat tanpa kelasnya. Yang mana keduanya
memiliki cara yang berbeda, tetapi dengan tujuan yang sama tentang
dihapuskannya kelas dalam masyarakat.
Munir Che Anam, dalam
bukunya yang bertajuk "Muhammad SAW dan Karl Marx tentang Masyarakat Tanpa
Kelas" mampu mengemas pemikiran kedua tokoh fenomenal ini secara epik.
Meskipun pembahasan mengenai Muhammad SAW dan Karl Marx bukanlah sesuatu yang
baru, namun pemikiran keduanya tentang masyarakat tanpa kelas adalah pembahasan
yang belum pernah disinggung sedetail ini. Untuk lebih jelasnya mari kita simak
pembahasannya yang terbagi menjadi empat bab dan kesimpulan ini.
Pertama, pendahuluan yang
memuat latar belakang masalah, telaah literatur, metode penelitian, dan alasan
tentang penulisan buku. Penulis memberikan gambaran singkat tentang Muhammad
dan Marx yang dianggapnya sebagai revolusionis pada zamannya. Kedua tokoh ini
juga dinilai memberikan pengaruh yang besar dan ajarannya dianut hingga
sekarang.
Selain itu, ada beberapa
perbedaan mendasar terkait pengetahuan Barat dan Islam. Barat yang dinilai
lebih humanis dan antrosentris. Sedangkan Islam yang lebih ke theosentris tanpa
mengecualikan manusia. Jadi, antara keduanya memiliki keinginan untuk
mengafirmasi peranan manusia. Namun, Islam tidak akan pernah bisa mengabaikan
kekuatan Allah dalam segala hal.
Kedua, biografi Muhammad
SAW dan Karl Marx. Seperti halnya biografi, dalam bab ini penulis merangkum
biografi tokoh dari Muhammad SAW dan Karl Marx dari beberapa sumber. Penulis
menyebut di awal bahwa tidak ada yang dapat melukiskan secara paripurna tentang
riwayat kedua tokoh, terutama Muhammad SAW. Selalu ada buku-buku sejarah yang
membingungkan dan kontradiktif dalam menuliskan sejarah.
Selain itu, ada latar
geografis dan sosial yang membentuk karakter kedua tokoh. Muhammad SAW
misalnya, di satu sisi ia tinggal di Mekkah dengan masyarakat yang terbilang
homogen dan pusat perdagangan. Di sisi lain, Nabi hijrah dan mengenal Madinah
dengan masyarakat yang heterogen dan daerah pertanian, perkebunan, serta
bukit-bukit. Secara tidak langsung, latar belakang ini tidak hanya mampu
membentuk karakter, namun juga akan memengaruhi cara pandang dan berpikir
Muhammad SAW.
Pun halnya Karl Marx.
Penulis menjabarkan biografi Marx dari kelahiran, keluarga, studi, pengalaman,
hingga kematiannya. Tidak lupa pula, penulis mencantumkan nama-nama besar yang
telah mempengaruhi Marx, seperti Hegel dan Engels. Selain itu, ada penjelasan
tentang setting sosial yang memberikan andil dalam aksi revolusioner Marx dan
penjabaran tentang karya-karya Marx dalam berbagai bidang, seperti filsafat,
politik, sejarah, dan ekonomi.
Ketiga, prinsip-prinsip
masyarakat tanpa kelas ala Muhammad SAW dan Karl Marx. Pembahasan bab ini
dimulai dari pandangan Muhammad SAW tentang masyarakat tanpa kelas. Demi
memperjelas pandangan masyarakat tanpa kelas, penulis menjabarkannya ke dalam
beberapa kajian, yaitu tentang prinsip sosialisme dalam Islam, kepemilikan
bersama, hak-hak tenaga kerja, upah buruh, dan kelas.
Prinsip sosialisme dalam
Islam adalah pandangan tentang egaliter atau tumbuhnya masyarakat yang setara,
tidak ada eksploitasi dan penindasan, masyarakat yang berkeadilan dan semangat
persaudaraan. Premis ini memang bertentangan di zaman Muhammad SAW, yang mana
masyarakatnya tersesat bukan saja dalam hal teologis namun juga ekonomi
kapitalis. Oleh karena itu, banyak kaum yang menentang ajarannya bukan hanya
karena teologi -bahkan masalah teologi bukan hal yang besar- namun karena dalam
ajaran Muhamas SAW yang mengancam ketenangan kaum kapitalis.
Beberapa ajaran yang
mengusik kaum kapitalis diantaranya adalah tentang kepemilikan bersama. Dalam
salah satu Hadist Nabi disebutkan adanya kepemilikan bersama (air, makanan
ternak atau tumput, api, dan lain sebagainya) tanpa mengabaikan tugasnya untuk
menjaga dan menggunakan dengan bijak harta pribadi. Selain itu, ada ajaran
tentang hak-hak tenaga kerja yang wajib dihormati, upah buruh yang sesuai
dengan kesepakatan ledua belah pihak, dan kelas yang satu dengan dasar tauhid.
Pembahasan selanjutnya di
bab ini adalah pandangan tentang masyarakat tanpa kelas oleh Karl Marx. Demi
pemahaman yang lebih kompleks, maka penulis menjabarkqnnya dalam beberapa
kajian, yaitu prinsip sosialisme, alienasi, kepemilikan, dan perjuangan kelas.
Hampir sama dengan konsep masyarakat tanpa kelas dari Nabi, namun Marx sama
sekali tidak melibatkan teologi di dalamnya (sekuler).
Dalam prinsip
sosialismenya misal. Penulis menyebut bahwa Marx tidak pernah menyebut istilah
sosialisme, melainkan Engels. Menurutnya, sosialisme adalah ideologi yang
menginginkan adanya kepemilikan bersama, menolak kepemilikan pribadi, dan
humanisasi. Ada pula pendapat yang menyebut bahwa dalam sosialisme, negara
harus menjamin kemakmuran masyarakat.
Selanjutnya alienasi,
kepemilikan atas barang produksi, dan perjuangan kelas adalah sebagian dari
usaha Marx. Lagi-lagi kapitalisme menjadi dalang dalam problematika di atas.
Keinginan Marx atas masalah itu adalah revolusi, menghancurkan kekuasaan negara
yang menciptakan kelas, dan membangun masyarakat tanpa kelas.
Bab empat adalah analisis
terhadap pemikiran Muhammad SAW dan Marx tentang masyarakat tanpa kelas.
Keduanya sama-sama memainkan peran rasio dan indera dalam masalah ini. Namun,
yang menjadi pembeda adalah, Muhammad SAW meyakini sumber pengetahuan adalah
Allah, sedangkan Marx sama sekali tidak ingin melibatkan agama dalam urusan
masyarakat. Marx tidak menolak atau anti terhadap agama, hanya saja ia geram
dengan aktor yang menyalahgunakan agama sebagai alat kuasa.
Tidak lupa, penulis
menjabarkan pengaruh kedua tokoh ini di Indonesia. Di negara yang mayoritas
muslim ini, tidak mungkin rasanya pengaruh Muhammad SAW diindahkan begitu saja,
apalagi terkait masyarakat tanpa kelas. Tentu saja ada beberapa golongan yang
berapi-api menyuarakan sosialisme ala Muhammad SAW, seperti Syarikat Islam.
Disusul oleh oleh pengaruh Marx tentang komunismenya yang juga dianut oleh
Partai Komunis Indonesia.
Bab terakhir adalah
kesimpulan. Bab ini berisi poin-poin yang diusung penulis terkait bukunya.
Mulai dari konsep masyarakat tanpa kelas ala Muhammad SAW dan Marx, persamaan
dan perbedaannya, serta pengaruh kedua tokoh di Indonesia.
Secara keseluruhan, topik dalam buku ini cukup menarik. Pembaca bukan hanya disuguhkan tentang pemikiran tokoh terkait mayarakat tanpa kelas, tetapi juga perbandingan sejarah. Yang mana akan memancing pembaca berpikir dua kali untuk mengamini kebenaran sejarah.
