“Bisakah Tuhan berhenti membuatku mimisan?”
Kurang ajar sekali sebuah mulut melonglong tak
gentar
Seperti angin yang memaksa masuk ke dalam rongga
yang sedang menggigil
Siapa dia si anak kecil yang berani itu? Tak takut
Tuhan?
Rupanya, dia bernama ‘Aku’. Nama lengkapnya ‘Aku Si
Anak TK’
Lisannya kehilangan rantai, kalimatnya keluar
membantai..
‘Aku’ tak menyukai senyum, katanya gigi depannya
tak cantik
‘Aku’ hanya menyukai warna-warni di genggaman
bapaknya
Oh iya, Aku menyukai ibunya. Bahkan, senyum ibunya.
Manis..
Kudengar, ‘Aku’ sudah berkali-kali mengganti nama
lengkapnya
Terakhir bercengkrama, namanya menjadi ‘Aku yang
Tak Kunjung Sarjana’..
Kudengar, ‘Aku’ tak lagi menagis sekencang gemuruh
Tangisnya sesunyi malam tanpa hujan
Kudengar, ‘Aku’ enyukai empat tahun. Begitu orang
mengenalnya
Tiap ‘Aku’ masuk, ‘Aku’ akan keluar setelah empat
tahun
Kukira ‘Aku’ masuk sebuah kesedihan yang
menggerogoti
Ternyata ‘Aku’ mengganti nama lengkapnya
Setiap empat tahun sekali, tahun kelahirannya
berusaha dihilangkan. Entah. Aneh..
Ragu.. Jawabnya singkat
saat kutanya mengapa ‘Aku’ dan 1998
Kukira kerusuhan, ternyata kesusahan..
Kupikir kemiskinan, rupanya kemirisan
Kalimatnya masih lihai menyulap kesejukan menjadi
bara api
Hanya “Terima kasih untuk 23 tahun atas
keapaadaannya” yang tak merubah damai..
“Setia menantiku berpulang setiap 4 tahun sekali”
Begitu tutur ‘Aku’ dengan isak yang lama tak pernah
kulihat..
‘Aku’ berubah. Ada Saya dalam diri ‘Aku’. Ada resah
dalam diri ‘Aku’
Hanya satu yang masih sama, ‘Aku’ masih mencintai
klandestin dengan sarkasnya
Hanya satu yang menetap, ‘Aku’ masih membanggakan
rahasia dengan binarnya..
Semua berubah, semua menua, semua melepas, semua
menghilang
Hanya ‘jika’ yang menetap, hanya ‘jika’ yang
menapak, hanya ‘jika’ yang mengakar
Begitu kalimat akhir ‘Aku’, sebelum ia menjelma
menjadi ‘Saya’, lagi..
Penulis: Rizqa Aufa Fauzia
