“Mamak
kan sudah bilang, dirumah saja leh. Jaga adikmu, ajari berhitung, kerjakan
tugas Bapak guru, tak usah ke ladang. Biar Mamak saja, kau dengar tidak kata Mamak?”
suara Mamak terdengar lantang dari dapur yang pintunya tembus ke jalanan hingga
masuk ruang tengah, cukup nyaring di telinga, telak membuatnya mengurungkan
niat.
“Mad, Mamak
punya rambutan sembilan, kau kasihkan abang tiga, Mamak tiga, dan kau makan
sendiri tiga. Sisa berapa sekarang? tanya Saleh pada adiknya. Ahmad terdiam
hampir satu menit sama sekali tak ada jawaban keluar dari mulutnya.
“bang,
Mamak tak punya rambutannnnn”, bantah Ahmad pada Saleh.
“sudah
bayangkan saja mad, ah kau nih susah betul” gerutu Saleh.
“bang,
apa sih gunanya sekolah kalau nanti juga untuk cari uang” Ahmad punya banyak
trik untuk hal pengalihan jawaban.
“heh,
anak kecil pintar nian kau itu, disuruh menghitung rambutan tak genap sepuluh
saja lama sekali, kenapa sekarang pertanyaanmu macam orang dewasa?” ucap Saleh
dengan nada tinggi dan mata melotot.
“Samusi
orang kaya bisa sekolah sampai kuliah tapi tetap saja, membantu bapaknya jadi
tukang membuat batako” gumam Ahmad lagi.
“Semua
tergantung masing-masing Mad, kalau kau rajin hingga di sekolahkan negara dan
kau mau ikut bekerja di kota tak apa, tapi kalau Mamak menyuruhmu tinggal di
kampung untuk menjaga ladang dan mengairi sawah mau apa lagi kau?” tanya Saleh geram.
“Kujual
ladang Mamak, kubawa Mamak ke kota dengan Bang Saleh lalu ganti kubelikan gedung-gedung
besar. Bangga Mamak dengan aku ini ha ha ha” tawanya puas.
“ha ha
ha, setelah itu dijualah gedung-gedung itu oleh mamak, lantas dihapus kau dari
keluarga Mamak” Saleh menimpali jawaban Ahmad mantap.
“loh,
bang” kelopak mata Ahmad melebar terheran.
“Mamak
itu sederhana, sekaya apapun itu, Mamak tidak akan pernah berkeinginan menjual
ladang peninggalan Bapak. Karena susah payah Mamak dan Bapak dulu dimulai dari
ladang itu Mad, apalagi saat Bapak mengetahui Mamak sedang mengandungmu.
Menangis
Mamak dibuatnya setiap hari berfikir harus bagaimana membantu Bapak menghidupi
keluarga dan janin yang ada didalam kandungannya karena takut tak bisa
memberikan gizi yang cukup.
Tapi
kembali Bapak selalu menyadarkan Mamak untuk tetap bersyukur, kalau rezeki itu
tidak selalu datang dalam bentuk uang, makanan, atau barang tapi bisa juga anak.
Karena anak juga akan membawa rezekinya sendiri.
Semua
sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Jadi, sangat kurang ajar sekali jika kau
sukses nanti berpikir akan menjual ladang Bapak lalu membawa Mamak ke kota” jelas
Saleh Panjang lebar. Sepertinya Ahmad kali ini semakin tidak paham.
Kehidupan
keluarga Saleh sepeninggalan bapaknya cukup sulit. Bapaknya meninggal tertimbun
material bekas galian pertambangan, yang tidak segera ditutup usai di
eksploitasi.
Keadaan
ini membuat Saleh ikut membantu Mamaknya mencukupi kebutuhan pangan dengan
berjualan gorengan di kantin sekolah. Sebenarnya Mamak tidak tega melihat Saleh
sekolah sambil berjualan, tapi ini semua keinginan tulus Saleh.
Dia
tidak merasa malu sama sekali, justru dengan berjualan ia menjadi lebih semangat
untuk bersekolah. Karena baginya ia bisa tetap mendapatkan ilmu sekaligus uang,
walaupun itu tidak berlangsung lama.
Hal
tersebut karena Mamak melarang keras Saleh berjualan, dengan alasan bahwa
berjualan membuat Saleh menjadi tidak fokus bersekolah.
***
Udin, Bapak
Saleh termasuk petani sukses walaupun sawah yang digarapnya itu bukan milik
sendiri, melainkan sistem bagi hasil dengan pemiliknya. Namun, sayangnya keadaannya
berubah setelah ia meninggal dunia.
Meski tewasnya
Pak Udin merupakan akibat dari kesalahan pihak pertambangan yang tak kunjung
menutup lubang galian, tetapi hal ini juga tidak bisa dihakimi. Karena sudah
menjadi aturan tertulis perusahaan tambang, bahwa penduduk dilarang memasuki kawasan
bekas galian.
Seandainya
jika masih ada yang keras kepala mendekati wilayah tersebut, bahkan hanya untuk
sekedar mencari cacing umpan ikan maka tanggung jawab bukan dari perusahaan.
Awalnya
mamak berkali-kali melarang Bapak, namun bapak bersikeras meyakinkan bahwa sudah
bertahun-tahun banyak yang mencari cacing tetap selamat. Berbeda jika pencari
cacing itu sampai berenang, mungkin kemungkinan bahaya itu ada.
Pada
akhirnya, Pak Udin menjadi penduduk pertama pencari cacing yang tidak berenang
kemudian tewas di lubang bekas galian. Mayatnya tidak dapat diangkat karena
terlalu rapuh, sehingga dikhawatirkan potongan tubuhnya akan terpisah-pisah.
Mamak
dan Eyang memutuskan untuk ikhlas membiarkan mayat Pak Udin tetap di dalam lubang,
dan menaburinya dengan bunga mawar disaksikan penduduk kampung. Setelah
kejadian itu, tak ada lagi kawan memancing Bapak yang berani mencari cacing.
Hampir
setiap tahun ada saja laporan “anak hilang setelah sebelumnya berenang di bekas
galian tambang”, bukan karena dimangsa jin sejenis tumbal melainkan karena banyak
yang ditemukan tewas di tempat.
Hal ini
dibuktikan oleh tim sar yang sudah beberapa kali menelusuri dasar galian
tambang, dan menemukan seorang anak sudah tidak bernyawa lagi. Sejak saat itu, perasaan
takut terus menghantui para orang tua saat anak mereka pamit hendak pergi bermain.
Pun, banyak
orang tua yang kemudian tak pernah bosan mengingatkan anak mereka agar tidak
bermain di sekitar galian bekas tambang. Akibat jengkel, beberapa orang tua
menasehati anak-anak mereka yang tidak menuruti nasehat dengan menceritakan
kejadian mengerikan seputar tenggelamnya korban yang berenang di bekas tambang.
Bahkan
cerita itu sampai di bumbui hal-hal yang tidak dapat dinalar. Hal ini
semata-mata agar anak-anak penduduk kampung jera dan enggan bermain disana.
Pernah
suatu ketika Mamak dibuat naik pitam di siang hari oleh kedua anak bujangnya
itu, dimarahinya hingga kedua anaknya lari tunggang langgang kerumah Samusi.
Mereka berlindung di dalam gorong-gorong baja karena ketahuan main ke lubang bekas
galian tempat Bapaknya tewas, lagi-lagi karena ulah Ahmad.
“Bang
Leh, kangen Bapak tidak?”
“Doian
aja Mad, Bapak hanya butuh Do’a” tenang Saleh pada adiknya.
“Bang,
kalo ajaran agama Islam dalam hidup setidaknya mengunjungi makam keluarga kita
yang sudah meninggal dunia, nah kalo lagi kangen gini kan bisa juga”
“Dulu
sudah pernah waktu Bapak meninggal di TKP Mad, itu sudah cukup. Bahaya juga
kita kesana, dilarang pula oleh Mamak, sudah jangan buat masalah. Abang tau kau
ini banyak alasan ingin ke lubang bekas tambang itu”
“Bang
Leh, tau tidak kadang-kadang desa Sebrang itu ada ritual do’a bersama dengan
desa kita, banyak makanan disana, cukup duduk dan ikut berdo’a, sudah dapat
makanan”
“Memang
kau tau kalau hari ini mereka akan menggelar do’a?”
“Nah,
kita lihat aja dulu barangkali hari ini ada, dengar-dengar kata Samusi hari ini
tetua desa sedang masak-memasak untuk menyiapkan hidangan do’a”
Pandai
memang Ahmad, adik Saleh yang usianya baru genap 7 tahun. Tetapi kata-katanya
mampu meracuni siapa saja yang berbicara dengannya apalagi dalam hal
rayu-merayu.
Semula
orang keras kepala seperti Saleh yang berpegang teguh pada prinsip, dan karena
takut kena amarah Mamak akhirnya bergegas juga berkat penjelasan Ahmad yang
belum pasti benar itu.
Dari
samping jendela rumah, memang benar dari atap rumah Pak Tetua terlihat gumpalan
asap tebal keluar dari corong dapur rumahnya. Ratih anak gadis Pak Tetua
disertai beberapa kerabat sedang terlihat hilir mudik membawa sayur mayur
kedalam rumah, tanda kebenaran perkataan Ahmad semakin kuat.
“Ini
masih terlalu pagi Mad,” membalikkan badan dari jendela sambil melihat jam
dinding.
“kita
tunggu disana saja bang, duduk paling depan biar cepat dapat makanan banyak, Mamak
pasti senang.” Ahmad mulai berjalan menuju pintu hendak keluar rumah. Sambil
mengawasi apakah Mamak ada disekitar rumah atau tidak, kemudian masuk lagi
berbicara kepada Saleh.
“apa
tidak sebaiknya berangkat Bersama Mamak, sekalian kita ajak Mamak. Sepertinya Mamak
juga belum pernah ikut.” Tanya Saleh masih sangsi.
“tidak
usah bang, nanti kalau ikut Mamak dapatnya hanya sedikit karena kita pasti
disuruh duduk paling belakang karena Mamak takut kita berulah” kepalanya kembali
mendongak untuk mengecek dan berjaga apabila Mamak tiba-tiba datang.
Bersambung...
Penulis: Uun Zahrotunnisa
