“tidak
usah bang, nanti kalau ikut Mamak dapatnya hanya sedikit karena kita pasti
disuruh duduk paling belakang karena Mamak takut kita berulah” kepalanya kembali
mendongak untuk mengecek dan berjaga apabila Mamak tiba-tiba datang.
Berikutnya...
“Ya sudah
ayo berangkat. Mamak dimana?” Saleh melangkah menyusul Ahmad yang sedari tadi
keluar masuk pintu rumah menyelidiki keadaan.
“Mamak
sedang ke Pasar, ayo cepat bang nanti Mamak tau” tukas Ahmad sembari mendahului
Saleh yang masih berdiri di daun pintu
“Hei,
mau kemana kalian” teriak Mamak, keluar dari rumah Pak Tetua. Membuat kedua
anaknya yang hendak melangkahkan kaki terkaget bukan kepalang.
“waduh,
Mamak disana ternyata” Ahmad mengadu pelan
“bagaimana
ini, kau bilang Mamak ke pasar Mad. Mau bilang apa ini nanti”
“berbohong
saja bang, kita hendak main ke tempat Samusi”
“Dasar
kau ini. Mamak, benci dengan pembohong Mad, kau tau itu” sergah Saleh
memelototi adiknya.
Dengan
hitungan detik Mamak sudah berdiri di depan kedua anak bujangnya itu. Sambil
memandang wajah ketakutan anak-anaknya.
“sejak
tadi, aku perhatikan dari rumah Pak Tua kalian berdiri seperti maling dirumah
sendiri, tengok sana-sini, keluar masuk, Apalagi ini Ahmad berbicara bak orang
penting menyusun siasat. Apa yang hendak kalian lakukan?” tanya Mamaknya
mendesak.
Keduanya
ketakutan hendak terkencing-kencing di celana. Tidak berani menatap Mamaknya
kalau sudah seperti ini. Nampaknya Mamak akan sangat marah jika tahu rencana
mereka pergi ke galian bekas tambang.
“Anu
mak, maaf tadi Ahmad bilang ada acara do’a bersama desa kita dengan desa
seberang di sebelah lubang bekas tambang, jadi kami ingin pergi kesana duluan
sebelum banyak orang” jelas Saleh.
“siapa
bilang, sejak kapan ada do’a bersama di sebelah lubang maut itu. Ketahuilah
yang kalian lihat disana itu ritual syirik, mereka menyediakan masakan dan
bunga sebagai sesajen agar diberi kekayaan dan keselamatan,
Adapun
yang kalian lihat di rumah Pak Tua sedang sibuk menyediakan hidangan karena
nanti malam Ratih akan dipinang oleh pemuda kota, dan bukan untuk menggelar
do’a.
Bapak
dan Mamakmu ini seumur hidup tidak pernah mengikuti ritual itu karena bukan
termasuk ajaran Islam, itu musyrik. Sudilah kalian dengar Mamak, tidak usah
main kesana, main di sejauh apapun terserah kalian nak, tapi jangan ke lubang
itu.
Mau
melihat Bapak kau menangis di Surga sana melihat ulah kalian yang susah Mamak beri
tau” terik matahari pagi menyilaukan pandangan Mamak, tambah kesal Mamak kali
ini.
“Mengerti
tidak kalian? sudah berapa kali Mamak mengomel untuk tidak pergi kesana ?”
“Sering
mak, Maafkan kami” jawaban ini sempurna semakin membuat Mamak mereka marah,
sudah diberi tahu tapi tetap saja keras kepala. Secepat kilat Mamak menyambar
sapu yang disandarkan di depan pagar kayu rumah, saat hendak diayunkannya
keatas namun Saleh dan Ahmad sudah berlari menghindar sejauh mungkin,
bersembunyi ke rumah Samusi.
****
Walaupun
keluarga Mamak kurang mampu sebelum Bapak meninggal, tetapi ia sudah membangun
surau tepat di sebelah teras rumah panggungnya, minimalis tapi muat untuk satu
keluarga.
Seusai
solat maghrib Mamak selalu membaca qur’an Bersama kedua putranya. Lelahnya
Bertani seharian tidak menyurutkan semangatnya mengajarkkan ilmu agama.
Mamak
dulunya lulusan pondok pesantren walaupun tidak sampai Aliyah (SMA), tentu saja
itu karena hambatan biaya sekolah. Mamak pun berhenti dan memilih membantu
orang tua, sebenarnya Mamak menyesal setelahnya karena orang tuanya yang kecewa
akibat keras kepalanya.
Orang
tua Mamak sudah melarang dengan keras karena sebentar lagi biaya sekolahnya dan
saudara-saudaranya nanti akan ditanggung oleh paman yang ada di kota.
Mamak akhirnya
merasa bersalah dan memutuskan untuk menikah dengan Bapak, sebab jika harus
melanjutkan sekolah Mamak tidak punya semangat lagi juga diselimuti rasa takut akan
mengecewakan harapan orang tua.
Oleh karena
itu, Mamak sangat memperhatikan Pendidikan anak-anaknya. Ia pasti akan sangat
sakit hati jika kesulitan hidup yang dialami membuat anak-anaknya bertindak
seperti halnya Mamak dulu. Tapi, ini sudah pernah terjadi kepada Saleh.
***
“Mak,
aku ingin bantu Mamak, biarkan si Pintar Ahmad yang sekolah, aku tidak usah.
Aku bodoh mak, tidak seperti dia, tidak pernah masuk peringkat, sering
mengantuk di kelas, paling tidak paham satu kelas.
Bahkan
seusia Ahmad saja aku masih sulit membaca, memahami kata-kata orang. Tiada guna
mak, percuma Mamak biayai aku sekolah. Tak pandai-pandai” tiba-tiba Mamak
dikejutkan kalimat Saleh setelah mengaji dan belajar agama dengan Mamak.
“istighfar
Leh, jin apa yang menempel di ragamu, sampai seperti tidak tahu malu dan dosa
kau itu. Baru selesai mengaji bukan mensyukuri nikmat Tuhan, malah berkeluh
hingga ingin putus sekolah. Sadar leh, kau itu manusia. Ajaran apa yang sudah
diberikan Bapak guru sampai hari ini kalimat itu keluar dari mulutmu?”
“maaf
mak, aku tak sanggup lihat Mamak sendirian bekerja untuk kami, Mamak bohong
kalau Mamak kuat, Saleh tau suara hati Mamak, Saleh tau.” air mata tertahan di
mata kanan kiri Saleh.
“Lantas
apakah dengan kalimatmu putus sekolah membuat Mamak lega karena sudah tidak
membiayaimu sekolah? apakah dengan niat tulusmu membantu bekerja akan membuat Mamak
senang? justru semua kalimatmu itu membuat Mamak sakit hati Saleh.
Bayangkan
saja semua usaha Mamak selama ini, sampai kau bisa melihat sendiri keadaan Mamakmu
yang terlihat tua lebih cepat daripada ibu-ibu pada umumnya. Setiap hari Mamak
pulang pergi ke ladang, kadang ikut tetangga memetik hasil kebun dari seusai
subuh sampai menjelang maghrib.
Bukan
kepalang bahagianya jika bisa membayar kebutuhan sekolah kalian, Mamak rela menahan
diri hanya sekedar untuk tidak membeli
mukena yang sudah menguning, kusam, berjamur ini yang sejatinya penting untuk
urusan ibadah.
Apa
gunanya Mamak tabung hasil kerja keras Mamak setiap hari kalau bukan demi
mendukung kesuksesan anak-anak. Jangan seperti Mamak dulu, menyesal kemudian
setelah keras kepala kepada orang tua.” tangis Mamak pecah, bercampur rasa
kecewa setengah mati, perasaannya hancur.
“maafkan
Saleh mak, bukan maksud Saleh begitu. Maaf jika niat Saleh melukai hati Mamak”
sesal Saleh sambil bersimpuh di pangkuan Mamak, lututnya lunglai tak sampai
hati melihat Mamak menangis tersedu-sedu.
“sudahlah,
temani adikmu makan sana kasihan dia sendirian menuggumu di dapur” utus Mamak
mengisyaratkan Mamak tidak mau ditemani.
“tapi,
Mamak?” ajak Saleh kemudian
“mau
membantah lagi?” suara parau Mamak terdengar menyayat hati Saleh.
“iya
mak baiklah” Langkah gontai kaki Saleh mengantarkannya menuju dapur, ceroboh
sekali tidak memikirkan matang-matang perkataan dan niatannya itu, sampai
terlanjur melukai hati Mamak.
Seumur-umur
baru kali ini Mamak menangis sampai tersedu-sedu, bahkan sampai Bapak meninggal
pun tidak sebegitunya. Mamak paham menangisi orang yang sudah meninggal hingga
terisak itu tidak diperbolehkan, padahal Bapak separuh jiwa Mamak, tidak pernah
membuat Mamak kecewa.
Justru
kali ini Aku anak yang diharapkannya sukses, kali ini sanggup membuatnya
menangis terisak. Piring yang tadinya penuh sayur dan nasi serta lauk pauk
sekarang bersih tak tersisa.
Setengah
jam Saleh makan sambil melamun hingga makanan yang didepannya kalap, bahkan
baca do’a sebelum makan pun tak ingat. Memang ketika sedih begini Saleh lebih
banyak melamun sambil memikirkan sesuatu.
Jangan
tanya soal selera makan, dalam keadaan apapun Saleh tetap akan menghabiskan
makanan. Sudah menjadi kebiasaan sejak kecil, makanan tidak boleh sampai
tersisa walau sebiji beras pun.
Tiba-tiba
Mamak mendatangi Saleh. Jika sedih Mamak memang tak pernah berlarut-larut,
sesedih apapun Mamak tetaplah Mamak, tegar, kuat dan akan segera beranjak kalau
memang sedang merasakan kesedihan, karena bagi Mamak kehidupan harus seimbang.
Bahagia secukupnya, bersedih seperlunya, bersyukur sebanyak-banyaknya.
“maafkan
Mamak karena telah keras mendidikmu dan adikmu Ahmad selama ini, semua itu agar
kalian kuat jiwa raga menghadapi kerasnya hidup. Memang dari segi harta kita
bisa jadi paling miskin sedunia, tapi janganlah kalau soal akhlak.
Mamak
percaya sekolah bisa membentuk akhlak dengan baik. Bukan perihal pintar saja,
karena itu sudah biasa. Lihat banyak orang pintar diluar sana tanpa akhlak
sehingga ia diperdaya oleh kepintarannya.
Banyak
dari mereka yang kemudian merusak ekosistem kampung kita, membuat galian sana
sini, mengeksploitasi kekayaan alam. Jika sudah habis mereka akan meninggalkannya
begitu saja, bahkan sempat mengutarakan janji manis untuk membenahi agar tidak
membahayakan penduduk sekitar.
Tapi,
fakta apa yang kita dapati, janji bagi mereka hanya sebagai bumbu penyedap. Semua
dilakukan agar mendapat persetujuan dari masyarakat untuk melakukan proyek
pertambangan, sedangkan janji untuk kita bak musibah baru.
Niat
dan harapan Mamak adalah ketika kalian sekolah, bukan hanya ilmu yang kalian
dapat tapi sekaligus akhlak. Karena itu, Mamak setiap hari berdo’a pada Tuhan dan
memohon agar kelak anak-anak Mamak sukses dan menjadikan kampung halaman
beserta warganya tidak mudah dibohongi oleh pejabat negeri”.
“satu
lagi, Pendidikan akan mengangkat derajat siapa saja yang mengagungkannya nak,
ketahuilah bahwa barang siapa yang berilmu dan beradab akan disegani, disenangi
siapapun yang berada disekelilingnya.
Untuk Mamak,
tak peduli seberapa pintar dirimu, jangan pernah bandingkan dengan siapa pun
bahkan saudaramu sendiri, Ahmad. Karena setiap orang memiliki keahlian
masing-masing.
Giatlah
sekolah karena Mamak akan sangat bangga, bulir-bulir keringat, tulang belulang,
dan kulit Mamak serta Bapakmu nanti akan terhindar dari panasnya api neraka
karena berhasil mencukupkan kebutuhan pendidikan anak-anaknya.
Perkara
pekerjaan, semua itu akan ada waktunya, rezeki sudah ada yang mengatur,
kesuksesan sudah ada yang mengarahkan, tugasmu sekarang adalah kerjakan
kewajibanmu sebagai anak yang soleh seperti namamu Saleh, sekolah baik-baik,
ibadahlah dengan rajin.
Karena
Tuhan tidak tidur. Ia akan melihat setiap kepayahan yang telah manusia
upayakan. Percaya nak, sekolah itu adalah tempat terbaik menempa ilmu untuk
pedoman menapaki kehidupan sebagai bekal pulang ke pangkuan Sang Maha Esa.
Ketika
Bapak pergi, itu berarti tugasnya menjadi manusia sudah selesai, engkau dan Ahmad
lah yang akan menyempurnakan. Jadilah kebanggaannya di akhirat”
Mendengar
Mamak berbicara pada Saleh, Ahmad yang sedari tadi yang berdiri sambil bermain
rubik di balik dinding kayu berbatasan dengan dapur dan ruang tengah mengerti
maksud dari kalimat abangnya tempo hari ketika belajar denganya. Ia kemudian
menyimpulkan dan berkata dalam hati.
“tak
mau lah namaku di hapus dari keluarga Mamak hanya karena menjual ladang dan
membawa Mamak ke kota, untung bang Saleh kasih tau aku kemarin”.
Penulis: Uun Zahrotunnisa
