Ramadhan
berlalu dengan cepat. Tidak peduli apakah umat manusia-umat Islam khusunya-,
menjalaninya dengan sungguh-sungguh dan memanfaatkannya atau hanya sekadar
menjalaninya. Atau juga hanya membiarkan waktu berlalu begitu saja, itu tidak
akan mengubah bahwa fakta Ramadhan akan tetap berakhir pada waktunya.
Sebulan
penuh seorang muslim menahan haus dan lapar di waktu siang, juga diuji dengan
menahan hal-hal buruk, tentu semua dilakukan agar puasa dapat ditunaikan dengan
sempurna. Sedangkan di waktu malam bergelut dengan ibadah shalat malam, seperti
shalat tarawih, witir, hajat, dan tahajud.
Pada
siang maupun malam juga terus dipacu untuk melakukan berbagai amalan dan
kegiatan kebaikan ini-itu guna tak menyia-nyiakan jaminan keberkahan yang
diberikan dari bulan Ramadhan ini.
Tentu
dalam melaksanakannya bukan hal mudah, baik ibadah wajib bulan Ramadhan atau
hal-hal sunnah yang menyertainya, maka tak mengherankan apabila telah paripurna
selesai bulan Ramadhan dan Syawal bersambut, Islam menyebutnya sebagai hari kemenangan.
Hari
kemenangan, setidaknya memenangkan diri sendiri dari godaan nafsu, baik dengan mengupayakan
menunaikan ibadah wajib dengan tuntas, terus giat menambah amal baik, menghindari
hal buruk, dsb.
Maka
hari kemenangan ini merupakan hari yang begitu membahagiakan. Selain diistilahkan
dengan hari kemenangan, ia yang merupakan hari raya umat Islam ini disebut juga
dengan hari raya ‘idul fitri.
Umat
Islam akan memeriahkannya dengan suka cita, terkhusus di Indonesia biasanya
diisi dengan saling berkunjung kepada sanak keluarga dan para tetangga. Hal ini
dilakukan untuk menunaikan maaf agar dapat kembali dalam keadaan bersih.
Di
sisi lain, harapan kemenangan itu tak hanya menang dari godaan yang ada di
bulan Ramadhan saja. Karena tujuan hadirnya Ramadhan jelas bukan menjadikan manusia
sebagai hamba Ramadhan, yang giat beribadah ketika Ramadhan dan mengabaikan
bulan-bulan lainnya.
Pada
hakikatnya Ramadhan hanya medan latihan, sementara pertempuran selanjutnya
menanti pada 11 bulan lainnya. Harapannya tentu saja, bekal kebiasaan baik yang
dibentuk pada bulan suci tersebut, senantiasa menjadi kebiasaan yang
berkelanjutan bukan hanya sesaat saja.
Sehingga
semoga benar, bahwa kita termasuk golongan orang-orang yang menang dan tetap
kuat bertempur, terus melakukan amal baik pada Syawal hingga bertemu kembali dengan
Ramadhan.
Maka
pertanyaan semacam, “Apakah ketika Ramadhan berlalu, kita benar-benar menjadi
pemenangnya? Apakah kita benar-benar telah memenangkan pertarungan pada diri
sendiri selama bulan Ramadhan ini atau justru sebaliknya, kita yang tunduk pada
nafsu dan kehendak diri?”
Tentu
jawabannya hanya masing-masing pribadi yang tau. Lalu, semoga jawaban dari
pertanyaan itu mengantarkan kita pada diri yang selalu ingin memenangkan
pertarungan atas segala kebathilan.
Seperti
yang sudah dinyatakan, bahwa momen ‘Idul Fitri biasanya dihiasi dengan saling
memaafkan satu sama lain, baik dengan keluarga, saudara, tetangga, kolega, dan
sebagainya.
Sayangnya,
terkadang momen itu hanya dimaknai sebagai sekadar “momen”, hanya dimeriahkan
karena itu yang biasa dilakukan, bukan benar-benar dilakukan dengan penghayatan
dan kesungguhan.
Momen
maaf-memaafkan kadang kehilangan esensinya. Tak jarang, kegiatan silaturahmi
yang mulanya untuk menjaga hubungan kekerabatan, justru berganti ajang berbisik
gosip sana sini.
Pertemuan
antarsaudara justru membawa diri pada kesibukan membicarakan kesalahan sanak
saudara atau rekan lainnya, hingga bukannya mengurangi dosa antar sesama, namun
diam-diam malah memupuk dosa di sisi lainnya.
Atau
momen ketika bertemu sanak saudara, mulanya saling bertanya kabar, tak lupa
saling berjabat tangan saling menyampaikan maaf, namun di ujungnya dibumbui dengan
berbagai macam kalimat-kalimat dengan tujuan menyakiti dan menghakimi agar diri
sendiri terlihat lebih baik dari yang lainnya.
Maka,
bukannya menghilangkan luka (kesalahan) antarsesama, namun jutru diam-diam memupuk
bentuk luka lainnya. Meskipun dalam realita yang sering terjadi, memaafkan tak
sama dengan melupakan kesalahan.
Namun,
ketika sudah dalam upaya saling memaafkan, itu artinya juga dalam proses
menerima, menerima bahwa mungkin pernah ada kesalahan seseorang di masa lalu,
menerima dengan kelapangan hati mengenai yang terjadi, meski memang belum dapat
melupakan keburukannya atau menyudahi rasa sakit saat mengingatnya.
Meski
demikian, tidak menjadikan pembenaran untuk terus mengungkit-ungkit kesalahan. Tentu
tak jarang kejadian yang sudah terjadi bertahun lalu misalnya, yang dikatakan sudah
melalui proses saling memaafkan, namun esoknya kesalahan yang sama diungkit
guna menyerang lawan bicara.
Maka
begitulah, kadang hari raya yang dipandang sebagai hari saling memaafkan ini
bisa kehilangan esensinya, karena “memaafkan” itu sendiri sudah kehilangan jati
dirinya. Ya, kerapnya memaafkan menjadi sebuah kedustaan semata.
Berkaitan
dengan memaafkan, itu bukan menandakan kelemahan seseorang. Memaafkan tidak
menandakan seseorang kalah dari siapa yang dia maafkan. Hal itu justru
menunjukkan bahwa ia telah mencapai kemenangan tertinggi dalam meluruhkan
egonya, dan memilih untuk berdamai meski rasanya berat.
Begitulah
memaafkan, ia pada sejatinya bukan tentang orang lain, namun tentang kedamaian
dalam diri sendiri. Hari raya idul fitri yang begitu indah tentu menjadi sebuah
waktu yang baik untuk saling memaafkan. Meski begitu, jangan menunggu satu
momen untuk saling memaafkan, namun terus ciptakan momennya.
Mengenai
memaafkan, ada satu kisah yang dapat diteladani, di mana kisahnya menandakan kedamaian
dan ketundukan hati pemiliknya. Kisah ini tentu bukan kisah yang asing lagi, ini
tentang upaya dakwah Rasulullah di luar Makkah, tepatnya di kota Thaif.
Beliau
pergi bersama anak angkatnya yang bernama Zaid bin Haritsah menuju kota yang
berjarak 60 mil dari Makkah tersebut. Upaya pertama saat tiba di Thaif tentu
mendatangi dahulu pemuka kabilah guna mengenalkan Islam, namun pemuka kabilah
tersebut menolaknya dengan perkataan yang tidak menyenangkan.
Rasulullah
terus mencoba melakukan pendekatan dengan warga di sana, namun ia terus
ditolak, bahkan lantas diolok-olok. Tak cukup sampai di situ, ketika beliau
hendak melangkah keluar dari kota, para warga Thaif yang tak bermoral melempari
Rasul dengan batu, mencacinya, dan menghujami tumit beliau dengan batu sampai
sandalnya bersimbah darah.
Kejadian
tersebut bukan hanya menyakitkan secara fisik, namun tentu menyayat hati
Rasulullah. Allah yang Maha Melihat dan Mendengar, lalu mengutuskan malaikat
untuk menemui Rasulullah.
Tidak
lain adalah untuk membawa penawaran, apakah Rasulullah menghendaki jika Allah
melenyapkan warga yang telah menyakitinya tersebut. Jawaban Rasulullah lah yang
menggetarkan hati dan menandakan bagaimana kualitas akhlaknya.
“Bahkan
aku berharap kelak Allah memunculkan dari tulang punggung mereka suatu kaum
yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun,”
Begitu jawabnya.
Jawaban
ini tidak lain menunjukkan bagaimana ketulusan dan sikap pemaaf Rasulullah yang
begitu luar biasa. Dakwahnya tulus guna meninggikan asma Allah, ia tak
menyimpan dendam bahkan pada yang telah menyakitinya.
Ia
memiliki sifat begitu pemaaf dan bahkan justru berharap akan hadir kebaikan
dari orang yang telah menyakitinya. Tentu bukan Rasulullah yang sempurna
akhlaknya, namun sebagai umatnya, tentu sudah menjadi kewajiban untuk
meneladaninya.
Kembali pada hari raya Idul Fitri, jika benar itu menjadi momen maaf-memaafkan, setidaknya kisah Rasulullah mengenai memaafkan tersebut dapat menjadi teladan utama. Memaafkan tanpa disertai dendam dan justru mengharapkan kebaikan bagi yang lainnya.
Penulis: Hanifah ‘Urwatulwutsqo Rofi’ah
