Tok tok tok. Assalamu’alaikum . . .
Mumpung masih suasana lebaran nih,
aku punya pantun.
Makan nasi lauk ikan kakap
Ikannya mancing dari lautan
Jika ada salah kata dan sikap
Mohon untuk dimaafkan
cakeppppp….
Lagi nih …
Ketupat opor di hari Raya
Makan sendiri di porsi besar
Hai, cuma mau nanya
Kamu yang baca “apa kabar?”
Apa kabar teman - teman semua? Semoga
kita semua dalam keadaan sehat wal afiat dan selalu dalam lindungan Allah SWT.
Saat ini kita sedang memasuki bulan Syawal yang artinya kita sedang merayakan
Hari Raya Idul Fitri. Setelah melewati bulan Ramadhan, apa aja sih yang sudah
kita dapatkan? Yuk kita ulas bareng yaa...
Kehidupan adalah suatu fase yang tak
menentu, seseorang dapat datang dan pergi silih berganti tak mengenal waktu,
begitupun dengan perasaan. Terkadang kita bahagia, bersedih, atau bahkan
bahagia dan bersedih di waktu yang bersamaan.
Seperti saat Ramadhan pergi
meninggalkan kita. Hati ini dirundung kesedihan karena Ramadhan telah berlalu,
namun juga bahagia karena hari kemenangan telah tiba. Hari ini menjadi saksi
bisu bahwa kita telah lulus ujian kesabaran dan menahan hawa nafsu selama
berpuasa di bulan yang suci.
Banyak sekali hikmah dan pelajaran
yang kita dapatkan dari bulan ini. Salah satunya adalah meningkatkan kesabaran
dalam segala hal, saat menahan lapar dan dahaga, menahan amarah, serta menahan
hawa nafsu selama berpuasa ataupun setelah berbuka. Tanpa disadari Ramadhan
mengajarkan kita untuk peduli terhadap sesama, seperti berbagi takjil, sahur,
dan tolong - menolong dalam penyelenggaraan kegiatan selama bulan Ramadhan.
Ramadhan juga mengajarkan arti
bersyukur atas karunia dan rezeki yang Allah SWT berikan. Setelah menahan lapar
dan dahaga selama berpuasa, apapun menu berbuka yang terhidang di atas meja
menjadi sangat nikmat saat kita santap. Gelas pertama setelah berbuka pun akan
menumbuhkan perasaan bahagia dalam hati, apalagi jika berbuka bersama keluarga.
Suapan pertama juga demikian, momen ini menjadi sangat berharga dan tak akan
kita temukan selain di bulan Ramadhan. Kebersamaan dan kesederhanaan inilah
yang patut kita syukuri adanya.
Kewajiban lainnya di bulan Ramadhan
adalah mengeluarkan zakat fitrah sebesar 2,5 kg dalam bentuk beras. Hal ini
menyadarkan kita bahwa dalam harta kita terdapat hak orang lain juga, dan
merupakan bentuk kepedulian terhadap orang - orang yang membutuhkan agar dapat
merasakan indahnya kemenangan di hari yang Fitri.
Hari kemenangan pun tiba setelah sebulan lamanya berpuasa, hari Raya Idul Fitri namanya. Diawali dengan pelaksanaan shalat Idul Fitri dua rakaat berjama’ah dan khotbah kemenangan, baik di masjid maupun tanah lapang. Namun sudah dua tahun ini sebagian besar umat Islam memilih untuk melaksanakannya di rumah masing - masing karena Covid - 19 masih merajalela.
Uniknya setiap daerah memiliki cara dan tradisi
tersendiri dalam merayakan Idul Fitri. Ada yang memakai baju seragam bersama
keluarga, ada yang mudik, berkumpul bersama keluarga besar, menyantap masakan
seperti opor atau rendang, atau bahkan ada yang menunggu hari ketujuh untuk
menyantapnya.
Membuat kue lebaran juga menjadi
salah satu tradisi masyarakat Indonesia dalam menyambut hari raya. Biasanya
para ibu dan anak perempuan saling membantu membuatnya pada hari - hari
terakhir di bulan Ramadhan. Kue ini yang akan menjadi hidangan bagi para tamu
yang datang berkunjung ke rumah.
Sebenarnya kue - kue ini pun tak
jarang dijumpai di pusat perbelanjaan, namun bagi sebagian orang membuat kue
lebaran sendiri lebih melegakan hati. Meskipun lelah, namun melegakan hati.
Banyak banget nih jenis kue lebaran, seperti nastar, kastengel, sus kering,
atau bahkan yang berbau tradisional seperti keripik pisang, kembang goyang,
keciput, dan masih banyak jenis lainnya. Jadi, kue lebaran apa nih yang ada di
rumahmu?
Terlepas dari semua perbedaan ini,
ada hal yang menjadi tradisi wajib setiap lebaran yaitu saling bermaaf -
maafan. Lebaran menjadi momen haru yang dapat meluruhkan ego setiap orang dalam
menggerakkan hati untuk meminta maaf ataupun saling memaafkan segala kesalahan,
baik yang disengaja ataupun tidak.
Lebaran pun menjadi momen yang sangat
bermakna bagi yang jarang bertemu, baik itu keluarga, saudara, teman, ataupun
pasangan jarak jauh. Ada juga nih yang baru tau kalau ternyata mereka
bersaudara di hari lebaran itu. Kamu termasuk tim ini nggak?
Menurut kamu nih, puasa sebulan
lamanya itu butuh usaha keras nggak sih? Dan apa aja sih hikmah dan kebaikan
yang kamu dapat dari Ramadhan?
Jawaban setiap orang pasti berbeda
ya. Tapi ada satu hal yang harus sama, yaitu nggak melupakan semua yang sudah
kita dapatkan. Gimana caranya biar nggak lupa? Dengan mengamalkannya dalam
kegiatan sehari - hari. Ibaratnya nih kita merasa kesulitan mengerjakan
matematika, lalu guru mengajarkan materi di kelas. Biar nggak lupa pasti guru
bilang, “perbanyak latihan ya, perbanyak
mengerjakan soal biar cepet bisa dan nggak lupa”. Bener kan teman - teman?
Ya, sama hal nya dengan hikmah dan
kebaikan ini. Di atas tadi kita sudah mengulas berbagai macam hal yang kita
lalui selama bulan Ramadhan. Banyak sekali hikmah, pelajaran, dan kebaikan yang
kita dapatkan.
Beberapa hal tersebut bukan hanya
kewajiban saat Ramadhan saja, melainkan menjadi kewajiban seumur hidup kita.
Karena menghidupkan kehidupan itu dengan cara memperbaiki diri setiap detiknya.
Semangat berbuat kebaikan!
Ternyata ada satu hal lagi nih yang
harus kita ingat, jangan mengulangi kesalahan yang sama. Seandainya dosa kita
dapat kita lihat banyaknya, pasti kita sangat berhati - hati dalam berperilaku.
Ibaratnya nih saat Idul Fitri kita seperti terlahir kembali dalam keadaan yang
fitrah karena saling bermaafan.
Apakah kita ingin melihat tumpukan dosa kembali? Sebagian orang akan berpikir, “ah kan tahun depan bisa ketemu Ramadhan lagi, ntar maaf - maafan lagi”. Alhamdulillah kalau dipertemukan dengan Ramadhan lagi, kalau nggak? Manusia memang tak luput dari dosa, namun sebaik - baik manusia yang banyak kesalahan dan dosanya ialah mereka yang bertaubat.
Bertemu
dengan banyak orang seperti kerabat atau kawan lama merupakan suatu kenikmatan,
namun jangan sampai lengah hingga menjadikannya ladang dosa kita. Kadang tanpa
kita sadari celetukan dan bercandaan yang kita lontarkan membuat mereka tidak
nyaman atau bahkan menggoreskan luka dalam hati.
Ada
yang bilang, “loh kan fakta, aku ngomong
apa adanya kok. Toh dianya juga biasa aja”. Banyak orang yang mudah
berkamuflase dengan raut wajah dan respon yang baik - baik saja. Tapi apa saja
yang tersirat dalam hati tak dapat disembunyikan dari Allah SWT.
Maka
alangkah baiknya jika kita menjaga lisan kita agar terhindar dari dosa - dosa yang
merugikan diri. Momen lebaran adalah momen yang sakral dan suci, jangan sampai
momen ini ternodai oleh lisan yang tak dapat dikendalikan ini.
Momen lebaran adalah momen berbahagia, jangan sampai menjadi momen sedih yang akan dikenang sepanjang hidup kita. Tak ada yang bisa kita kendalikan kecuali diri sendiri. Oleh karena itu mari kita menjaga diri sendiri agar orang lain juga berhati - hati dengan dirinya.
Penulis: Sylvia Rizky Anissa Noviana
