Ketika kita bisa memuji
sesuatu dengan melibatkan Allah, kenapa tidak kita lakukan?
Bukankah sesuatu yang ada
disekeliling kita sumber utamanya dari Allah?
Beberapa
waktu lalu banyak pembahasan mengenai Penyakit ‘Ain di dunia maya, padahal penyakit
‘Ain ini sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Penyakit ‘Ain ini nyatanya ada
di sekeliling kita, karena penyakit tersebut bukan hanya menyerang benda hidup
atau makhluk hidup saja, tetapi bisa juga kepada benda mati.
Penyakit
ini lebih berbahaya dibandingkan penyakit yang tampak kasat mata, karena yang
bisa mengendalikan penyakit ini adalah mata dan hati kita yang setiap hari digunakan
dan tidak bisa lepas dari itu. Penyakit ‘Ain ini pun bisa menjadi penyakit hati
yang sangat merugikan diri sendiri dan orang-orang di sekelilingnya.
Penyakit
‘Ain berasal dari pandangan seseorang atas dasar suka, kemudian diiringi dengan
rasa dengki (Ibnu Hajar-Kitab Fathur Bari).
Penyakit ‘Ain pun dibagi menjadi dua, yaitu ketika pendangan yang disertai
dengan kekaguman dan dari pandangan yang disertai dengan rasa hasut. “Ain
itu benar-benar ada, andaikan ada sesuatu yang mendahului takdir, sungguh ain
itu bisa” (HR. Muslim no. 2188).
Dalil
pandangan hasad bisa menyebabkan ‘ain adalah surat Al Falaq. Al Lajnah Ad
Daimah menjelaskan:
Bahkan
Allah Ta’ala memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi
wa sallam untuk meminta perlindungan dari orang yang hasad, “… dan
dari keburukan orang yang hasad” (QS. Al Falaq: 5). Maka banyak dari
mereka yang menjadi penyebab dari penyakit ain adalah orang yang hasad, namun
tidak semua orang yang hasad itu menimbulkan ‘ain” (Fatawa Al Lajnah Ad
Daimah, 1/271).
Apa
benar penyakit ‘Ain ini bisa menyebabkan orang meninggal?
Gangguan
dari penyakit Ain ini sendiri bisa berupa penyakit, kerusakan bahkan terjadinya
kematian. Dari Jabir bin Abdillah RA, Nabi SAW bersabda: “Sebab paling
banyak yang menyebabkan kematian pada umatku setelah takdir Allah adalah ‘ain”
(HR Al Bazzar dalam Kasyful Astar (3/404), dihasankan oleh Al Albani dalam
Shahih Al Jami’no1206).
Suatu
kisah ada seorang kholifah, yaitu kholifah sebelum Umar bin Abdul Aziz yang
meninggal karena penyakit ‘Ain, ketika itu hari jumat dan beliau memakai baju
bagus ingin melaksanakan sholat jumat dan memakai sorban yang bagus pula, lalu
ia bercermin.
Ketika
sedang bercermin beliau takjub dengan dirinya sendiri dan mengatakan “Ana malikun Syar” yang artinya “Saya
ini raja yang muda banget nih”. Setelah itu berangkat sholat dan ketika pulang
sholat dari masjid beliau sakit lalu meninggal saat malam tiba.
Penyakit
‘ain ini adalah penyakit ketika kita memuji diri sendiri, kemudian ada setan
yang lewat dan mendengar perkataan kita.
Karena sifatnya yang dengki, setan selalu merasa cemburu kepada siapapun yang
merasa lebih darinya.
Mengutip Kisah Sahl bin Hunaif dan ‘Amir bin Rabi’ah
Adapun
dalil bahwa pandangan mata kagum bisa menimbulkan ‘ain pada orang yang
dikagumi, adalah hadits panjang riwayat Imam Malik tentang Sahl bin Hunaif yang
dilihat dengan penuh kekaguman oleh Amir bin Rabi’ah radhiallahu’anhuma. Dari
Abu Umamah bin Sahl, ia berkata:
“Suatu saat ayahku, Sahl bin Hunaif, mandi di Al
Kharrar. Ia membuka jubah yang ia pakai, dan ‘Amir bin Rabi’ah ketika itu
melihatnya. Dan Sahl adalah seorang yang putih kulitnya serta indah.
Maka
‘Amir bin Rabi’ah pun berkata: ‘Aku tidak pernah melihat kulit indah seperti
yang kulihat pada hari ini, bahkan mengalahkan kulit wanita gadis’.
Maka
Sahl pun sakit seketika di tempat itu dan sakitnya semakin bertambah parah. Hal
ini pun dikabarkan kepada Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, “Sahl sedang
sakit dan ia tidak bisa berangkat bersamamu, wahai Rasulullah”.
Maka
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam pun menjenguk Sahl, lalu Sahl bercerita
kepada Rasulullah tentang apa yang dilakukan ‘Amir bin Rabi’ah. Maka Rasulullah
Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Mengapa seseorang menyakiti
saudaranya? Mengapa engkau tidak mendoakan keberkahan? Sesungguhnya penyakit
‘ain itu benar adanya, maka berwudhulah untuknya!”.
‘Amir
bin Rabi’ah lalu berwudhu untuk disiramkan air bekas wudhunya ke Sahl. Maka
Sahl pun sembuh dan berangkat bersama Rasulullah, (HR. Malik dalam
Al-Muwatha’ [2/938] dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah [6/149]).
Sehingga
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:
“Orang
yang memandang dengan pandangan kagum khawatir bisa menyebabkan ‘ain pada benda
yang ia lihat, maka cegahlah keburukan tersebut dengan mengucapkan: Allahumma
baarik ‘alaih (Ya Allah berikan keberkahan kepadanya)” (Ath Thibbun
Nabawi, 118)
Ketika
kita kagum terhadap sesuatu dan tidak menggunakan adab dan tata cara yang harus
disertai dengan menyebut nama Allah dan menyertakan doa yang baik di setiap
perkataannya.
Jika
kita ingin menceritakan suatu kenikmatan (tahadus ni’mah) maka berceritalah
dengan orang yang kita percaya agar terhindar dari bahayanya hasud dan doa-doa
buruk.
Memahami Pandangan Yang Disertai Dengan Rasa Hasad
Hasad
adalah orang yang merasa berat ketika orang lain mendapatkan nikmat dari Allah,
baik berupa kekayaan, ilmu ataupun dicintai orang banyak dan bagian baik
lainnya, sehingga akan timbul rasa senang terlepas nikmat tersebut dari orang
itu walaupun ia tidak akan mendapatkan sesuatu dari hilangnya nikmat tersebut.
Salah
satu kisah yang bisa kita pelajari adalah dalam surat al-Kahfi ayat 32-42, di
mana Allah mengaruniai yang ingkar dengan dua kebun. Al-Quran menyebutkan
tentang dua kebunnya sebagai berikut:
“Kami
jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan
kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua
kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan
kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di
celah-celah kedua kebun itu, dan dia mempunyai kekayaan besar.” (QS: al-Kahfi
| Ayat: 32-34).
Orang
ini memiliki dua buah kebun anggur, dan terdapat pohon pohon kurma mengelilingi
kebunnya sebagai pagar. Di Antara dua kebun itu ada ladang. Allah alirkan air
ke kebun itu, dan ketika panen ia merasakan limpahan anggur, kurma dan hasil
ladang. Ia sangat kaya dan menikati hasil panennya tersebut.
Dengan
penataan kebun yang luar biasa ini, ia pun sangat bangga, ia bisa memiliki ilmu
dalam mengatur dan memaksimalkan lahannya dengan baik. Ia bisa menggabungkan
tanaman yang berbeda dengan susunan rapi dan irigasi yang sangat baik, tak lupa
pula dengan perawatannya.
Dengan
itu ia bisa panen maksimal. Ia pun masuk ke dalam kebun yang congkak, padahal
ia menzhalimi dirinya sendri, ia ingkar dengan anugerah yang menciptakannya,
dan sombong kepada orang lain.
Dalam
surah ini dikisahkan ada sahabat yang salah satu diantaranya adalah pemilik
kebun yang luas dan bagus, sedangkan yang lain tidak memiliki kebun. Salah satu
sahabat (pemilik kebun) tersebut dengan bangga menyombongkan dirinya, maka ia
pun terkena penyakit ‘ain. Penyakit ‘ain ini berasal dari pandangan mata yang
disertai dengan rasa hasad.
Penyebab
utama terjadinya penyakit ‘ain ini adalah pikiran negatif, karena penyakit ini
merupakan salah satu kejahatan yang dipicu oleh rasa iri manusia. Dipengaruhi
setan dan memuji tanpa melibatkan Allah SWT yang telah menciptakan bumi dan
seisinya.
Tetapi
manusia ini dapat melindungi diri mereka sendiri dari efek penyakit ‘ain jika
mereka percaya terhadap Allah SWT dan mencari perlindungan-Nya. Cara mengobati
penyakit ini adalah bertawakal kepada Allah.
Penyakit
ini pun dapat ditanggulangi dengan cara menuntun siapapun yang terpukau atas
sesuatu yang mengucapkan doa keberkahan atas sesuatu tersebut. Selain itu
penyakit ‘ain ini bisa disembuhkan dengan ruqyah sesuai dengan syariat.
Maka dari itu kita wajib menjaga pandangan dan hati kita ketika akan menilai seseorang dan memuji seseorang. Karena sesuatu yang kita ucapkan akan berdampak bagi kita dan lingkungan sekitar.
Penulis: Annisa Adabina
