“Ya Tuhan, kiranya engkau berbaik hati padaku kali
ini, mohon ampuni Aku, dan kalau hari ini waktu terakhirku untuk berdo’a di
bulan suci ini maka sudi kiranya Kau kabulkan permohonanku ini. Sembah sujudku
hanya kepada-Mu Allah Sang pengatur peredaran matahari dan bulan tanpa susah
payah. Pertemukanlah Aku dengan Ramadhan di tahun berikutnya. Aamiiiin”
Seusai berdo’a Bu Mar segera bangkit dari tempatnya
bersimpuh untuk menyegerakan diri melakukan aktivitas seperti biasanya, mencari
kayu bakar untuk dijualnya ke pengepul kayu bahan bakar produksi tahu tempe di desanya
setempat.
Jangan kaitkan Bu Martopah dengan kisah Istri Abu Lahab
yang memiliki perangai buruk hingga disebut sebagai pembawa berita kebohongan
dengan julukan sang pembawa kayu bakar, Bu Mar justru memiliki karakter
sebaliknya.
“Pandemi hitungannya sudah dua kali puasa ya Bu,
kangen sekali saya sama kumpul-kumpul dengan keluarga besar, makan bersama,
ketemu teman lama, lah banyak sekali pokoknya” Suara Ibu-Ibu yang usianya
terpaut lima tahun lebih tua daripada Bu Mar sedang mencoba mengawali
percakapan pagi itu. Saat itu Bu Mar tengah berada di depan halaman rumahnya dan
bersiap-siap melingkarkan kain ikat kayu di pundaknya.
“Iya Bu, bagi Saya sama saja ramadhan-ramadhan tahun
ini dengan dulu-dulunya. Hehehe maklum lah Bu” canda Bu Mar kepada Bu RT.
“Hehe.. maaf Bu, oh iya si Rama nggak pulang lagi ya
kelihatannya” tanya Bu RT kemudian.
“Sepertinya tidak Bu, walah orang keadaannya masih
seperti ini, nanti saja lah bu kalau sudah agak membaik, lagian buat ongkos
pulang sayang mending uangnya disimpan. Saya permisi ya Bu takut kesiangan
nanti” Bu Mar dengan langkah cepat sambil menyudahi pembicaraan pagi itu
bergegas pergi mencari kayu bakar.
Sepulang mencari kayu bakar sore itu, telepon genggam
klasik Bu Mar berdering beberapa kali hingga terlihat ada 7 panggilan tidak
terjawab dari nomor telepon dikenal. Karena masih harus memasak, menyiapkan
hidangan berbuka puasa, dan bersiap melaksanakan sholat maghrib berjamaah membuatnya
sampai rela mengabaikan bunyi teleponnya, padahal Bu Mar termasuk orang yang
cekatan dan cepat tanggap jika ada hal yang mungkin membutuhkan respon cepat.
Mungkin baginya panggilan yang beberapa kali masuk ke
nomor teleponnya tersebut sudah bisa ditebak dari siapa, tidak lain adalah Ramadhan.
Iya anak perjaka satu-satunya Bu Mar, yang kini merantau ke Ibu Kota berkat
mendapat beasiswa Kemendikbud pada pertengahan tahun 2017.
“Assalamualaikum Le, gimana puasanya?” Sapa Bu Mar
sambil menyeruput teh manis, tanda buka puasa telah tiba.
***
Semenjak pandemi, Rama yang semula hampir tidak pernah
merasa kesulitan dalam mencukupi kebutuhan hidup di Asrama kampus tempat
tinggalnya di Ibu Kota, kini harus bergelut dengan waktu untuk bekerja paruh
waktu demi menunjang kehidupannya agar tidak membebani Ibunya di kampung.
Pasalnya sejak pandemi, asrama kampus hanya memberikan
fasilitas tempat tinggal dan kebutuhan Wi-fi saja, selain itu tidak. Mengingat
banyaknya mahasiswa yang pulang kampung sejak awal pandemi hingga sekarang ini menjadi
sebab tidak tersedianya kebutuhan makan bagi mahasiswa yang saat itu masih ada
yang tinggal di asrama.
Pekerjaan paruh waktu di warteg dekat asrama ia
manfaatkan dengan baik, hitung-hitung yang punya warung sudah kenal lama dengan
Rama, tahu seluk beluk kehidupannya.
Mulai dari kisah asmaranya yang asam manis seperti
asinan mangga muda, tingkah laku anehnya sebagai mahasiswa semester akhir, dan
yang paling jadi nilai kuliahnya yang hamper selalu baik.
Rama juga terkenal Good Looking, untuk anak
gadis yang baru pertama melihat dan mengenalnya sudah pasti mengira dia
blasteran dan anak orang kaya. Padahal hidupnya jauh dari dua kata itu. Kesederhanaan
sedari kecil telah berhasil mendidiknya apalagi sejak ditinggal ayahnya, satu
hal yang ia ingat kala kelas tiga SD oleh ayahnya diberi tahu.
“Boleh kita bukan anak orang yang kaya, tapi
berpenampilan rapih dan wangi adalah kewajiban. Karena yang terlihat pertama
kali di mata orang asing terhadap kita adalah bukan karena sikap kita saja namun,
karena penampilan kita dari pandangan mata mereka”. Kata-kata ayahnya itu
terus terpikirkan sepanjang hidupnya. Sebab hanya itu saja yang tersisa di
dalam ingatan anak seusia itu.
“Kamu ga pulang Ram, kasian Ibumu kangen pasti” tanya
Ibu Pemilik Warteg memecah lamunannya.
“Ah, tidak Bu. Kondisi seperti ini nanti malah bikin
panik Ibu. Saya sebenernya sudah pingin pulang sejak lama. Namun, bagaimana
lagi. Nampaknya Ibu tidak setuju takut Saya kenapa-napa sampai rumah, lagian
kalau hanya diam di sini saja mungkin ada baiknya Bu. Selain itu, mungkin
supaya cepat menyelesaikan tugas akhir dan bisa lebih fokus mengerjakannya” jawab
Rama, sambil membungkus nasi ayam untuk berbuka dan sahur lantas kembali ke
asrama kampus.
Sepulang dari warteg dengan membawa es teh manis dan
dua nasi ayam, ia sembari melihat jam di tangan kanannya yang sudah menunjukkan
pukul 05.20 sore. Tiba di pelataran asrama kampus Rama melihat seorang penjual dipan
kayu keliling terlihat tengah duduk setelah menyandarkan sepedanya di tembok
pagar pinggir pintu masuk asrama. Dilihatnya sekantong kresek bening di
dalamnya terlihat bingkisan plastik es yang masih tergantung di stang sepeda.
“dari jam berapa Bapak tadi keliling?“ tanya Rama
sambil mendekat kepada penjual ranjang tersebut.
“dari pagi Mas, hehe. Tapi ya belum ada pembeli juga
sampai sore” jawab Bapak tersebut sambil tersenyum simpul.
“Saya salut sama Bapak. Merasa malu Pak, sebagai anak
muda harusnya bisa mencontoh Bapak, karena yang sepuh aja masih punya
semangat mencari nafkah meski belum diberi setelah bersusah payah seharian.”
pungkas Rama sambil tersipu malu.
“Mas, di dunia itu cuman ada dua hal yaitu baik dan
buruk. Demikian manusia. Kalo pas lagi ketemu sama hal baik pasti lupa sama
susahnya, sedihnya. Giliran lagi dapat musibah seakan-akan menganggap Tuhan
tidak adil.
Terus kemana saja selama diberi kebahagiaan tempo
hari. Ya masa iya sampai lupa kalau kita itu harus hidup beriringan sehingga nggak
siap dengan keadaan sebaliknya. Ujung-ujungnya Tuhan di maki-maki bilang kalau
tidak adil.
Apakah hanya orang dalam keadaan seperti Saya sajakah
yang bisa berkata demikian, Saya tidak yakin kalau nanti saatnya kaya saya akan
ingat perkataan sendiri. He he he”
sambil terkekeh Bapak penjual meneruskan ceritanya.
“ketika saya bertemu dengan orang-orang seusia Mas,
sama mereka Saya ditanya-tanya. Tentang ikhlas, prinsip, keyakinan, sabar dan
macam-macam lah sampai pernah saya dikira syekh-syekh yang nyamar jadi tukang
jualan dipan keliling.
Padahal Saya ini betulan manusia biasa seperti
orang-orang yang mengira Saya. Hal itu cuman karena mereka melihat saya jualan
dipan dan nggak kunjung bertemu dengan pembeli dan yang mereka heran kenapa
saya masih bertahan sampai saat ini.
Kalau tahu resiko pekerjaan saya ini luar biasa
mengupas lembaran kesabaran. Ya saya jawab asal aja mas. Tuhan itu melihat
setiap usaha makhluk-Nya, mau dia pandai, atau tidak pasti bukan itu yang
dilihat pertama kali, nggak kaya kita si manusia ini apa-apa harus serba yang
tampak mata dulu.
Jadi, ketika kita berusaha pasti Dia akan
mempertemukan kita dengan apa yang cocok dengan usaha kita, seperti halnya Saya
bikin dipan ya pasti saya akan bertemu dengan orang yang akan membutuhkan
dagangan saya.
Kalau manusia congkak pasti mengatur-atur do’anya
untuk disegerakan turun rezekinya padahal Tuhan lebih tau kapan. Cobalah
berdo’a agar kebutuhannya tercukupi, soalnya kalo kelebihan nanti banyak
lupanya pas lagi kena musibah pusingnya minta ampun karena lupa rintihannya
saat susah dulu. hehehe” sambil terus terkekeh bersama Rama.
Tiba waktu buka puasa dua orang laki laki yang sedari
tadi duduk di depan pagar bak sahabat karib itu menyeruput teh manis, dan makan
dengan lahap santapan yang dibawa oleh Rama sepulangnya dari warteg.
Kesederhanaan telah membuat Rama tahu akan makna kehidupan
yang sebenarnya, sesungguhnya sesuatu yang dapat kita petik adalah buah dari
penempaan hidup yang penuh cobaan berkali-kali.
Ada benarnya apa yang dikatakan oleh Bapak penjual
dipan keliling tadi. Lantas apakah semua hal yang akan mendidik manusia untuk
selalu mengingat hakikat Allah menjadikan manusia itu hidup, adalah ketika
mereka sedang berada di titik terendah sehingga harus putus asa ?.
Penulis: Uun Zahrotunnisa
