Hermeneutika dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
V (KBBI V) dijabarkan sebagai ilmu tentang interpretasi (tafsiran) asas-asas
metodologis. Oleh F. Budi Hardiman, hermeneutika dikategorisasikan menjadi dua,
yaitu hermeneutik klasik atau tradisional dan hermeneutik modern.
Hermeneutik klasik fokus pada “memahami” secara
tekstual atau literasi. Sedangkan hermeneutik modern telah melampaui literasi.
Dalam bukunya yang bertajuk Seni Memahami (2015), F. Budi Hardiman
mengulas berbagai sudut pandang hermeneutika dari tokoh-tokoh modern. Artinya, hermeneutik
bukan hanya dipahami dari segi literasinya, melainkan kontekstualnya. Penulis
bahkan membuat delapan bab hanya untuk menjabarkan hermeneutiknya.
Pertama, memahami sebagai seni, Schleiermacher
dan hermeneutik romantik. Besar dengan nama Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher,
ia telah membuka gerbang hermeneutik modern yang tidak lagi berpusat pada
memahami literasi semata.
Baginya, memahami (verstehen) dalam hermeneutik adalah menangkap makna dalam objek
(bahasa) dan menjadikan teks sebagai pemahaman.
Oleh karenanya, hermeneutik Schleiermacher
bertolak pada kesalahpahaman. Artinya, penafsir menggunakan prasangkanya untuk
memahami maksud dari menulis. Prasangka dari setiap penafsir tentunya
berbeda-beda.
Jika hendak mencapai pemahaman, maka dibutuhkan
kepiawaian dalam memahami. Inilah yang dimaksud oleh Schleiermacher sebagai
seni memahami.
Lantas, mengapa hermeneutik Schleiermacher
disebut dengan hermenenutik romantik? Romantik dalam periodisasi filsafat
dianggap sebagai masa kerinduan atas kejayan Yunani Kuno. Hampir sama dengan
maksud hermeneutik romantik yang menginginkan penafsir untuk bisa menangkap
maksud teks sesuai dengan pikiran penulis.
Artinya, penafsir atau pembaca diajak untuk
mengalami kembali pengalaman (dunia batin) penulis di masanya lewat teks yang
ditulis oleh penulis.
“Hermeneutik
romantik bermaksud untuk merekonstruksi makna penulis teks atau menghadirkan
kembali seutuhnya maksud penulis.”
Inilah mengapa, hermeneutik yang diusung
Schleiermacher dianggap telah melampaui literasi. Penafsir atau pembaca dapat
memahami teks lebih baik dari penulis. Namun, bukan berarti penafsir lebih
benar dari penulis. Penafsir dituntut untuk mengerti banyak hal tentang sesuatu
yang berkaitan dengan teks.
“Dengan
ini, memahami teks bukan hanya pada diri teks (unsur-unsur bahasa), melainkan
dari luar teks atau konteks (ruang dan waktu).”
Kedua, memahami sebagai metode ilmiah, Dilthey dan hermeneutik ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan. Wilhelm Christian Ludwig Dilthey dengan tegas membedakan ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan.
Baginya, ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan berisi ungkapan-ungkapan kehidupan
manusia (dunia batin atau mental). Sedangkan, ilmu-ilmu alam hanya fokus pada
sesuatu yang nampak saja.
Inilah yang melatarbelakangi hermeneutik
Dilthey sebagai metode ilmiah verstehen.
Target penelitiannya adalah dunia batin atau mental manusia dan peneliti
dituntut untuk berada di dalamnya. Selain itu, peneliti akan memperoleh
pengetahuan dengan memahami makna yang terkandung dalam teks.
“Singkatnya,
hermeneutik Dilthey dapat dipahami lewat interaksi antara peneliti dengan
objek-objek sosial-historis penulis (norma, tradisi, artefak, dan lain
sebagainya), bukan lagi dunia batin penulis.”
Ketiga, memahami sebagai cara berada, Heidegger
dan hermeneutik faktisitas. Martin Heidegger mengusung fenomenologi Husserl
dalam hermeneutiknya. Sama halnya dengan fenomenologi yang membiarkan fenomena
menampakkan dirinya sendiri, mengada sendiri, dan mengembalikannya pada dirinya
sendiri, maka hermeneutik Heidegger juga demikian.
“Hermeneutik
bukan lagi sesuatu yang ada dalam kesadaran penafsir, melainkan sesuatu itu
sendiri yang menampakkan atau menyingkap diri kepada penafsir.”
Menurut Heidegger, memahami itu sesuatu yang
primodial pada diri manusia. Tanpa berkeinginan untuk menghadirkannya, memahami
telah hadir sebelum dikehendaki untuk hadir. Ia telah ada pada diri manusia
secara spontan.
Inilah mengapa, hermeneutik Heidegger disebut
dengan hermeneutik faktisitas. Karena memahami adalah sesuatu yang tak
terelakkan dalam diri manusia. Memahami sebagai kemampuan manusia untuk
menangkap kemungkinan-kemungkinannya sendiri untuk berada. Dengan ini, memahami
bukan lagi sebagai metode, melainkan cara manusia untuk bereksistensi.
“Jika
Rene Descartes mendeklarasikan cogito ergo sum-nya (aku berpikir, maka aku
ada), maka Heidegger akan demikian, aku memahami, maka aku ada.”
Hermeneutik Heidegger pun akan terkesan berbeda
dengan dua tokoh sebelumnya. Jika Schleiermacher dan Dilthey bermaksud untuk
merekonstruksi atau merehabilitasi makna, maka Heidegger tak demikian.
Hermeneutiknya bermaksud untuk mendahului fakta atau menyingkap
kemungkinan-kemungkinan makna di masa depan.
Keempat, memahami sebagai menyingkap, Rudolf
Bultmann dan hermeneutik demitologisasi. Rudolf Karl Bultmann nyatanya diilhami
oleh pemikiran Heidegger. Ia mengungkapkan bahwa makna akan menyingkap diri
dengan sendirinya, sehingga ia dapat dipahami di masa depan.
Untuk mengetahui masa depan, tentunya tak akan
lepas kaitannya dengan masa lampau. Namun, bukan masa lampau yang dikulik oleh
Bultmann, melainkan mitos di dalamnya. Banyak ilmuan yang menganggap mitos
sebagai fiksi semata, sehingga melewatkan begitu saja maksud sebenarnya dari
mitos.
Inilah mengapa Bultmann begitu tertarik dengan
mitos yang diabaikan dan menyematkannya dalam hermeneutiknya, hermeneutik
demitologisasi. Menurutnya, demitologisasi sama sekali tak memiliki maksud
untuk menghilangkan mitos, melainkan memahami mitos. Sehingga, mitos bukan lagi
dianggap sebagai cerita imajinatif, tetapi cara masyarakat dahulu memahami
dunianya.
Kelima, memahami sebagai kesepahaman, Gadamer
dan hermeneutik filosofis. Hans-Georg Gadamer gencar meninggalkan romantisme
Schleirmacher dan metodologi atau historisme Dilthey. Ia lebih suka menggaungkan hermeneutik
sebagai kemampuan universal manusia untuk memahami.
Dengan demikian, hermeneutik Gadamer disebut
sebagai hermeneutik filosofis. Artinya, pembaca muskil untuk kembali ke masa
silam, karena pemahaman akan selalu dipengaruhi oleh horizon (ruang yang
memiliki batas) tertentu. Sehingga, pembaca akan memahami “sesuatu” di masa
silam hanya dari perspektifnya di masa kini.
Hermeneutik Gadamer memancing pembaca untuk mau
belajar berdialektika. Maksudnya, memahami bertujuan untuk “building” atau
membentuk dan merubah diri lewat belajar. Belajar yang dimaksud adalah mau
terbuka terhadap tradisi, sehingga memahami menjadi kemampuan universal
manusia.
Keenam, memahami sebagai membebaskan, Habermas
dan hermeneutik kritis. Jika Gadamer menyebut memahami sebegai keterbukaan terhadap
tradisi atau sebisa mungkin sesuai dengan tradisi, maka Jurgen Habermas menolak
dengan lantang pendapat itu. Menurutnya, tradisi bukan hanya untuk diteruskan
saja, melainkan perlu untuk dikritisi.
Hermeneutik kritis Habermas berangkat dari psikoanalisis Sigmund Freud dan kritik ideologi Karl Marx. Psikoanalisis Freud akan menghidangkan psikopatologi dan kritik ideologi Marx akan menyuguhkan kesadaran palsu.
Keduanya sama-sama mengungkit tentang kesalahan yang tak
disadari. Inilah yang membuat hermeneutik kritis menggaungkan distorsi
sistematis (pembaca dan penulis sama-sama mengalami ketidaksadaran akan
kesalahpahaman mereka) dalam memahami teks.
Oleh sebab itu, Habermas menggemakan
emansipatoris dalam hermeneutiknya. Ia berkeinginan untuk membebaskan penulis
dari ketidaksadarannya akan tulisan yang ditulisnya sendiri. Sehingga, ia
memahami betul apa yang telah ia tulis. Dan pembaca pun, tidak akan salah paham
atas teks yang dimaksud penulis.
Ketujuh, memahami sebagai merenungkan, Recoeur
dan hermeneutik simbol. Paul Recoeur meyakini bahwa simbol (bahasa dalam teks)
mengundang pemikiran. Sehingga, simbol akan menimbulkan perenungan filosofis.
“Memahami
bukan hanya sebatas makna dalam teks, melainkan juga merefleksi makna hidup.”
Dengan demikian, memahami ala Recoeur bukan
hanya bermaksud untuk merekonstruksi makna, tetapi juga menginterpretasi secara
kritis dengan mencurigai makna. Serta, dengan menyingkap sesuatu yang
tersembunyi di balik teks. Sehingga, tidak ada yang salah dalam merefleksikan
maksud dari teks setelah diinterpretasi secara kritis.
Terakhir, memahami sebagai menangguhkan,
Derrida dan hermeneutik radikal. Mashur dengan nama Jacques Derrida, ia
menggaungkan dekonstruksi dalam hermeneutiknya. Artinya, tak ada metode, aturan, kriteria, prosedur, maupun
teori dalam memahami.
Inilah yang menjadi alasan hermeneutik Derrida
disebut sebagai hermeneutik radikal. Dekonstruksinya menghentikan upaya untuk
merekonstruksi atau merehabilitasi makna suatu teks. Menurutnya, makna asli
-yang benar-benar utuh- dalam teks itu tak ada. Sehingga, interpretasi dalam teks
itu tak terhingga.
Penafsir teks tidak akan mendapatkan pemahaman
utuh seperti penulis. Pun sebaliknya, penulis tidak akan pernah bisa mengontrol
pemahaman penafsir. Dekonstruksi Derrida menjadi cara memahami atau menafsirkan
dengan membedakan, tanpa memutuskan atau menilai.
Selain itu, Derrida begitu memprioritaskan
tulisan dibandingkan dengan logosentrisme (berpusat pada logos atau pengetahuan/rasio) dan fonosentrisme (berpusat pada phone atau bunyi/tutur).
Menurutnya, tulisan bisa diinterpretasi tanpa dasar
pengetahuan, tidak melulu ilmiah. Dengan tulisan, juga tak perlu menghadirkan
subjek atau penulis untuk menjelaskan -secara tutur- tentang tulisannya.
“Derrida
benar-benar menghendaki tulisan yang otonom dan terbuka tanpa batas untuk
diinterpretasi.”
Kedelapan tokoh tersebut memang saling melontarkan kritik satu sama lain. Perihal benar-salah akan tetap jatuh pada otoritas pembaca juga. Setidaknya, pembaca telah mengerti apa yang dikehendaki dari masing-masing tokoh.
- Judul buku: Seni Memahami
- Penulis: F. Budi Hardiman
- Penerbit: PT Kanisius
- Kota terbit: Yogyakarta, 2015
- ISBN: 978-979-21-4345-4
